Skip to content
Tutorial emka
Menu
  • Home
  • Debian Linux
  • Ubuntu Linux
  • Red Hat Linux
Menu
Raccoon Framework

Apa Itu Raccoon Framework? Ini Pengertian dan Asal Usulnya

Posted on December 28, 2025

Raccoon Framework adalah sebuah perangkat lunak berbasis open source yang dirancang khusus untuk memfasilitasi pengembangan aplikasi seluler lintas platform, mencakup Android dan iOS secara bersamaan. Diciptakan oleh pengembang asal Nigeria, Adebayo Adekanbi, framework ini bertujuan menyederhanakan arsitektur coding dengan memanfaatkan basis React Native, sehingga memungkinkan pengembang menciptakan aplikasi yang efisien tanpa perlu menulis ulang kode sumber untuk setiap sistem operasi yang berbeda.

Sebenarnya, kalau kita bedah lebih dalam, kehadiran Raccoon ini kayaknya menjadi jawaban atas keresahan banyak developer di wilayah berkembang yang ingin bersaing di kancah global. Adebayo Adekanbi melihat adanya celah di mana pengembang lokal sering kali kalah start atau kalah sumber daya dibandingkan pengembang raksasa dunia. Dengan Raccoon, idenya cukup sederhana namun berdampak besar: bagaimana caranya satu kode bisa jalan di mana-mana dengan performa yang nggak kalah kencang. Rasanya ini jadi solusi cerdas karena bisa memangkas waktu pengerjaan dan biaya produksi secara drastis, sesuatu yang sebegitu pentingnya bagi startup atau pengembang independen.

Secara teknis, Raccoon ini berdiri di atas framework React Native. Jadi, bagi kalian yang sudah familiar mengotak-atik JavaScript atau React, proses adaptasi ke Raccoon sepertinya nggak akan memakan waktu lama. Kuranglebihnya, logika dasarnya sama, tapi Adebayo menyuntikkan berbagai penyederhanaan di dalamnya. Ini bukan sekadar wrapper biasa, tapi ada lapisan fitur khusus yang didesain untuk memudahkan akses bagi pemula sekalipun. Bayangkan saja, kalian bisa membangun aplikasi kompleks dengan struktur kode yang lebih ringkas dan mudah dibaca ketimbang harus membangun semuanya dari nol menggunakan native code yang rumit.

Salah satu fitur yang paling mencuri perhatian dan rasanya patut diacungi jempol adalah sistem pengelolaan state (state management) yang sudah terintegrasi. Kalau kalian pernah pusing mengatur aliran data di aplikasi yang besar, pasti paham betapa njelimet-nya urusan ini. Nah, di Raccoon, masalah pengelolaan state yang sering bikin bug atau aplikasi jadi lemot itu ditangani dengan pendekatan yang lebih efisien. Begitunya sistem ini bekerja, pengembang jadi bisa lebih fokus ke logika bisnis aplikasi dan desain antarmuka, daripada sibuk membenahi benang kusut di belakang layar.

Karena sifatnya yang open source, kode sumber Raccoon ini terbuka lebar buat siapa saja. Ini artinya, komunitas pengembang di seluruh dunia, bukan cuma di Nigeria, bisa ikut berkontribusi, memodifikasi, atau bahkan memperbaiki bug yang mungkin muncul. Semangat kolaborasi seperti inilah yang bikin Raccoon cepat mendapatkan atensi. Bahkan, kabarnya beberapa perusahaan besar mulai melirik framework ini sebagai alternatif yang layak diperhitungkan untuk proyek-proyek komersial mereka. Ini membuktikan kalau teknologi yang lahir dari semangat komunitas lokal, jika digarap dengan visi yang kuat, punya taring yang cukup tajam untuk bersaing di industri global.

Sumber: https://malpedia.caad.fkie.fraunhofer.de/details/win.raccoon https://virustotal.com/gui/collection/malpedia_win_raccoon

Recent Posts

  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • What is Reflex Framework? A Full-stack Python Framework
  • CloudFlare Acquired AstroJS!
  • How to Completely Remove AI Features from Windows 11 Explained
  • How to AI Fine-Tuning with a New Red Hat’s New Modular Tools
  • When to Use ChatGPT, Gemini, and Claude for Beginners
  • The Complete Roadmap to Becoming a Data Engineer: From Beginner to Pro Explained
  • Is OpenAI’s New Open Responses API: A Game Changer for Open Models?
  • The Top 5 Tech Certifications You Need for 2026 Explained
  • X.509 Certificates Explained for Beginners
  • How to Create a Local User on Windows 11: Bypass the Online Account Requirement Easily
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
  • Apa itu Skandal BlackCat Ransomware?
  • Grain DataLoader Python Library Explained for Beginners
  • Controlling Ansible with AI: The New MCP Server Explained for Beginners
  • Is Your Headset Safe? The Scary Truth Bluetooth Vulnerability WhisperPair
  • Dockhand Explained, Manage Docker Containers for Beginners
  • Claude Co-Work Explained: How AI Can Control Your Computer to Finish Tasks
  • Apa itu ToneShell? Backdoor atau Malware Biasa?
  • Apa itu Parrot OS 7? Ini Review dan Update Terbesarnya
  • NVIDIA Rubin Explained: The 6-Chip Supercomputer That Changes Everything
  • What is OpenEverest? The Future of Database Management on Kubernetes
  • Mau Cuan dari Nonton Drama di Cash Reels? Jangan Buru-buru Install Sebelum Baca Ini!
  • Tertipu Saldo Palsu? Apakah Game Layer Drop Penipu?
  • Inilah Syarat Terbaru dan Cara Daftar Bansos PKH-BPNT 2026 Lewat HP!
  • Inilah Trik Hubungkan Telegram ke WaIDN Biar Saldo Ngalir Terus!
  • Caranya Mengatasi Kode Verifikasi PayPal yang Nggak Pernah Nyampe di HP
  • Tutorial Python Deepseek Math v2
  • Cara Menggunakan SAM3D untuk Segmentasi dan Pembuatan Model 3D dari Teks
  • Cara Membuat AI Agent Super Cerdas dengan DeepAgents dan LangGraph
  • Perbedaan GPU vs TPU, Mana yang Terbaik
  • Tutorial Langfuse: Pantau & Optimasi Aplikasi LLM
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
  • Apa itu Skandal BlackCat Ransomware?
©2026 Tutorial emka | Design: Newspaperly WordPress Theme