Serangan kredensial IAM adalah sebuah metode peretasan siber di mana penyerang mengeksploitasi data login Identity and Access Management (IAM) yang bocor untuk menyusup ke dalam infrastruktur cloud. Secara sederhana, ini adalah pencurian “kunci digital” utama yang memberikan akses ilegal ke berbagai sumber daya sistem, mulai dari data sensitif hingga kontrol server.
Belakangan ini, kami di komunitas keamanan siber sedang ramai membahas laporan dari The Hacker News mengenai lonjakan serangan ini. Isu ini nggak bisa dianggap remeh karena targetnya adalah jantung dari operasi digital banyak organisasi. Saat kredensial IAM—yang seharusnya menjadi gerbang keamanan terdepan—jatuh ke tangan mereka (para peretas), dampaknya bisa sangat sistematis.
Mekanisme serangan ini sebenarnya cukup licik namun terstruktur. Penyerang biasanya memulai dengan mengidentifikasi akun IAM yang rentan. Kuranglebihnya, mereka mencari celah pada akun yang konfigurasinya lemah atau menggunakan kata sandi yang sudah terekspos di insiden kebocoran data lain. Teknik yang paling sering digunakan adalah credential stuffing. Di sini, mereka mencoba memasukkan kombinasi username dan password yang mereka dapatkan dari pasar gelap ke dalam sistem IAM target. Kayaknya, mereka ini memiliki basis data kredensial yang sangat masif untuk dicocokkan satu per satu.
Selain itu, mereka juga nggak segan menggunakan metode brute-force, yaitu menebak kata sandi secara paksa. Meskipun sistem IAM modern biasanya punya proteksi terhadap tebakan berulang, tapi segitunya usaha mereka untuk mencari celah sekecil apapun. Begitunya mereka berhasil masuk, ancaman sebenarnya baru dimulai. Mereka akan melakukan apa yang disebut privilege escalation atau eskalasi hak akses. Ini adalah teknik di mana akun dengan akses level rendah dimanipulasi untuk mendapatkan hak administrator. Rasanya ngeri kalau membayangkan orang asing punya kendali penuh atas sistem cloud kalian, bukan?
Untuk memahami alur serangannya secara teknis, berikut adalah tahapan yang biasanya terjadi di lapangan:
- Pemindaian Awal (Reconnaissance)
Penyerang memindai sistem public cloud untuk mencari titik masuk atau akun IAM yang terekspos. Mereka menggunakan alat otomatisasi untuk mendeteksi kesalahan konfigurasi yang bisa dimanfaatkan. - Eksekusi Pencurian Kredensial
Setelah target teridentifikasi, mereka melancarkan serangan credential stuffing atau brute-force. Seperti yang sudah disinggung, rasanya ini adalah fase paling kritis karena mereka memanfaatkan kelalaian pengguna yang jarang mengganti kata sandi. - Eksploitasi dan Eskalasi Hak Akses
Begitu masuk, mereka nggak langsung puas. Mereka akan mencari celah dalam kebijakan IAM untuk menaikkan level akses mereka. Tujuannya jelas: mendapatkan kontrol “root” atau admin agar bisa bergerak bebas tanpa terdeteksi. - Eksfiltrasi Data Sensitif
Dengan akses tinggi, mereka mulai menyalin data pelanggan, laporan keuangan, hingga kode sumber aplikasi (source code). Ini bukan cuma soal ngintip data, tapi mengambil aset intelektual perusahaan. - Penanaman Persistensi atau Malware
Agar bisa kembali lagi nanti, mereka seringkali meninggalkan backdoor atau menanam malware di dalam lingkungan cloud. Ini membuat pembersihan sistem menjadi sangat sulit meski serangan awal sudah ketahuan.
Melihat pola serangan yang begitu terstruktur, jelas bahwa pertahanan standar saja nggak cukup. Kami di tim teknis selalu menyarankan penerapan prinsip Least Privilege, di mana setiap akun hanya diberi akses seminimal mungkin sesuai kebutuhan kerjanya. Jadi, kalaupun satu akun jebol, kerusakan nggak akan menyebar ke seluruh sistem. Selain itu, sepertinya sudah wajib hukumnya bagi kalian untuk mengaktifkan Multi-Factor Authentication (MFA) di semua akun IAM tanpa terkecuali.
Dari perspektif praktis dan pengamatan kami di lapangan, serangan berbasis identitas seperti ini akan terus berevolusi seiring makin banyaknya perusahaan yang migrasi ke cloud. Kuncinya bukan pada seberapa canggih alat yang kalian punya, tapi seberapa disiplin kalian dalam mengelola akses. Sebagai rekan-rekanita yang berkecimpung atau peduli dengan teknologi, mari kita jadikan kebersihan siber (cyber hygiene) sebagai budaya, bukan sekadar ceklis kepatuhan. Kompetitor atau penyerang di luar sana terus belajar cara baru untuk membobol sistem, jadi kita pun nggak boleh lengah sedikitpun dalam memperbarui wawasan dan strategi pertahanan. Terimakasih sudah menyimak, tetap waspada!
