Skip to content
Tutorial emka
Menu
  • Home
  • Debian Linux
  • Ubuntu Linux
  • Red Hat Linux
Menu
fortiOS 2FA hack

Apa itu CVE-2020-12812? Ini Penjelasan Celah Keamanan Fortinet FortiOS 2FA yang Masih Bahaya

Posted on January 14, 2026

CVE-2020-12812 adalah sebuah kerentanan keamanan kritis yang menyerang sistem operasi FortiOS pada perangkat firewall FortiGate milik Fortinet. Masalah ini sebenarnya adalah celah autentikasi yang memungkinkan orang asing masuk ke jaringan VPN tanpa perlu melewati verifikasi autentikasi dua faktor atau 2FA, padahal fitur keamanan tersebut sudah diaktifkan oleh kalian.

Celah ini secara teknis terjadi pada fitur SSL VPN di FortiGate. Penyebab utamanya adalah masalah ketidakkonsistenan dalam menangani huruf besar dan kecil atau yang biasa kita sebut sebagai case-sensitivity pada nama pengguna. Kerentanan ini bakal muncul kalau kalian mengatur autentikasi pengguna secara lokal di perangkat FortiGate, tapi metode autentikasinya dihubungkan ke server remote seperti LDAP (Lightweight Directory Access Protocol). Rasanya agak aneh memang, cuma karena perbedaan huruf kapital saja, sistem keamanan yang harusnya ketat bisa jadi bolong begitu saja.

Sepertinya masalah ini jadi makin serius karena penyerang nggak perlu melakukan teknik yang sebegitu rumitnya. Mereka cuma perlu mengganti huruf di username saat mencoba login. Misalnya, kalau di sistem terdaftar nama pengguna “budi_it”, penyerang cukup mengetik “Budi_IT” atau variasi lainnya. Karena adanya perbedaan logika pencocokan antara database lokal FortiGate dan server LDAP, sistem bakal merasa autentikasi sudah berhasil tanpa meminta kode dari FortiToken lagi. Begitunya cara kerja celah ini sehingga penyerang bisa masuk ke jaringan internal perusahaan dengan sangat mudah.

Kira-kiranya, Fortinet sudah merilis perbaikan untuk masalah ini sejak lama, tapi ternyata sampai sekarang masih banyak banget organisasi yang belum melakukan patching. Hal ini diperparah dengan adanya kesalahan konfigurasi pada grup LDAP sekunder. Kalau grup ini nggak diatur dengan benar atau sebenarnya nggak perlu-perlu amat tapi malah dipasang, risiko kena serangan ini jadi makin besar. Bahkan lembaga keamanan kayak FBI dan CISA sudah berkali-kali kasih peringatan kalau kelompok hacker yang didukung negara sering banget pakai celah CVE-2020-12812 ini buat menyebarkan ransomware.

Buat kalian yang mengelola infrastruktur jaringan pakai FortiGate, ada baiknya melakukan langkah-langkah pencegahan teknis berikut ini supaya nggak jadi korban:

  1. Update FortiOS ke Versi Terbaru
    Segera lakukan pembaruan sistem operasi kalian. Fortinet sudah merilis perbaikan ini di versi FortiOS 6.4.1, 6.2.4, dan 6.0.10. Kayaknya nggak ada alasan lagi buat nunda update kalau versinya sudah tersedia.
  2. Matikan Fitur Username Case-Sensitivity
    Kalau sepertinya kalian belum bisa melakukan update dalam waktu dekat karena alasan teknis tertentu, kalian bisa mematikan pengaturan sensitivitas huruf pada nama pengguna. Ini bakal mencegah penyerang memanfaatkan perbedaan huruf kapital buat bypass 2FA.
  3. Audit dan Hapus Grup LDAP yang Nggak Perlu
    Cek lagi konfigurasi grup LDAP di perangkat FortiGate kalian. Kalau ada grup LDAP sekunder yang nggak dipakai atau sifatnya opsional, sebaiknya dihapus saja. Ini penting banget supaya nggak ada celah masuk kalau autentikasi utama gagal.
  4. Monitor Log Autentikasi secara Rutin
    Kalian harus rajin-rajin cek log akses SSL VPN. Perhatikan kalau ada percobaan login yang mencurigakan dengan variasi nama pengguna yang mirip-mirip, karena itu bisa jadi indikasi kalau ada yang lagi coba-coba nge-probe celah ini.

Mengabaikan update keamanan yang sudah lama dirilis itu rasanya kayak ninggalin pintu belakang rumah terbuka lebar padahal kalian sudah gembok pintu depannya dengan rapat. Meskipun CVE-2020-12812 ini sudah ada sejak tahun 2020, tapi kenyataannya ancaman siber itu nggak pernah memandang umur celah keamanan. Selama masih ada sistem yang nggak diurus dengan benar, ya bakal terus dihajar sama penjahat siber. Segitunya niat para hacker buat nyari celah sekecil apa pun. Kuranglebihnya, disiplin dalam melakukan patching dan audit konfigurasi adalah kunci paling dasar supaya data organisasi kalian tetap aman. Terimakasih sudah membaca penjelasan ini sampai selesai, rekan-rekanita, mari kita tutup celah keamanan ini sebelum terlambat.

Recent Posts

  • Is it Time to Replace Nano? Discover Fresh, the Terminal Text Editor You Actually Want to Use
  • How to Design a Services Like Google Ads
  • How to Fix 0x800ccc0b Outlook Error: Step-by-Step Guide for Beginners
  • How to Fix NVIDIA App Error on Windows 11: Simple Guide
  • How to Fix Excel Formula Errors: Quick Fixes for #NAME
  • How to Clear Copilot Memory in Windows 11 Step by Step
  • How to Show Battery Percentage on Windows 11
  • How to Fix VMSp Service Failed to Start on Windows 10/11
  • How to Fix Taskbar Icon Order in Windows 11/10
  • How to Disable Personalized Ads in Copilot on Windows 11
  • What is the Microsoft Teams Error “We Couldn’t Connect the Call” Error?
  • Why Does the VirtualBox System Service Terminate Unexpectedly? Here is the Full Definition
  • Why is Your Laptop Touchpad Overheating? Here are the Causes and Fixes
  • How to Disable All AI Features in Chrome Using Windows 11 Registry
  • How to Avoid Problematic Windows Updates: A Guide to System Stability
  • What is Microsoft Visual C++ Redistributable and How to Fix Common Errors?
  • What is the 99% Deletion Bug? Understanding and Fixing Windows 11 File Errors
  • How to Add a Password to WhatsApp for Extra Security
  • How to Recover Lost Windows Passwords with a Decryptor Tool
  • How to Fix Python Not Working in VS Code Terminal: A Troubleshooting Guide
  • Game File Verification Stuck at 0% or 99%: What is it and How to Fix the Progress Bar?
  • Why Does PowerPoint Underline Hyperlinks? Here is How to Remove Them
  • AI Bug Hunting with Semgrep
  • What is the Excel Power Query 0xc000026f Error?
  • How to Build Your Own Homelab AI Supercomputer 2026
  • Inilah Alasan Kenapa Hasil TKA Jadi Kunci Penting di Jalur Prestasi SPMB 2026, Orang Tua Wajib Tahu!
  • Inilah Alasan Kenapa Situs Bumiayu Dianggap Lebih Tua dari Sangiran dan Jadi Kunci Sejarah Jawa
  • Inilah Cara Cerdik Larva Kumbang Hitam Eropa Meniru Aroma Bunga untuk Menipu Lebah
  • Inilah 45 Planet Berbatu yang Paling Berpotensi Jadi Rumah Kedua Manusia di Masa Depan
  • Inilah Cara Ambil Kursus Online Gratis dari Harvard University untuk Asah Skill Digital Kalian!
  • How to Use VoxCPM2: The Complete Tutorial for Professional Voice Cloning and AI Speech Generation
  • Complete tutorial for Creao AI: How to build smart AI agents that automate your daily tasks
  • How to Streamline Your Digital Workflow with TeraBox AI: A Complete Tutorial for Beginners
  • How to Run Google Gemma 4 Locally: A Beginner’s Guide to Tiny but Mighty AI Models
  • A Beginner Tutorial on Cloning Website Source Code Using ChatGPT and AI Logic Reconstruction
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
©2026 Tutorial emka | Design: Newspaperly WordPress Theme