Skip to content
Tutorial emka
Menu
  • Home
  • Debian Linux
  • Ubuntu Linux
  • Red Hat Linux
Menu
nist nis2 compliance adalah

Apa Itu Standar Keamanan NIST dan NIS2? Ini Pengertian dan Panduan Lengkapnya untuk Password serta MFA

Posted on December 18, 2025

Apa itu standar keamanan siber yang sering disebut sebagai NIS2 atau panduan NIST? Secara umum, pengertian dari standar ini adalah serangkaian protokol ketat yang dirancang untuk melindungi aset digital, khususnya yang berkaitan dengan autentikasi pengguna. Definisi sederhananya, ini adalah aturan main yang “memaksa” kita untuk tidak sembarangan dalam mengelola kunci akses ke dalam sistem, demi mencegah kebocoran data yang kian marak.

Sebenarnya, kalau kita bicara soal NIS2 dan NIST, kita sedang membicarakan standar emas dalam keamanan informasi. NIST (National Institute of Standards and Technology) adalah badan di Amerika Serikat yang merilis kerangka kerja ini. Tujuannya jelas, biar standar keamanan kita relevan dengan ancaman hacker zaman sekarang yang makin canggih. Intinya, pedoman ini mendorong organisasi atau bahkan individu kayak kalian untuk menerapkan kontrol yang jauh lebih ketat. Fokus utamanya ada pada pengelolaan password dan penggunaan Multi-Factor Authentication (MFA). Kayaknya, di era di mana serangan siber bisa terjadi kapan saja, memahami definisi dan penerapan standar ini bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kita pastinya nggak mau kan data berharga kita hilang cuma gara-gara sistem pengamanan yang “bolong”?

Nah, mari kita bahas lebih dalam soal teknisnya, terutama soal password. Password itu bisa dibilang benteng pertahanan paling depan. Masalahnya, banyak dari kita yang bikin password asal-asalan. Padahal, password lemah itu ibarat ninggalin kunci rumah di bawah keset; gampang banget ditemuin maling. Berdasarkan standar yang ada, kuranglebihnya ada beberapa langkah teknis yang harus kalian lakukan untuk memastikan password kalian memenuhi syarat keamanan modern:

  1. Perhatikan Panjang Karakter
    Hal pertama yang wajib kalian ingat adalah panjang password. Standarnya, minimal harus 12 karakter. Kenapa? Karena begitunya logika komputer bekerja; semakin panjang kombinasi karakternya, waktu yang dibutuhkan hacker untuk memecahkan kode tersebut lewat metode brute force bakal jadi sangat lama, bahkan bisa butuh ratusan tahun. Jadi, jangan pelit karakter ya.
  2. Kombinasi Karakter yang Kompleks
    Jangan cuma pakai huruf kecil semua atau tanggal lahir. Kalian harus mencampur huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol-simbol aneh kayak (!@#$%^&*). Rasanya memang agak ribet buat diingat, tapi ini meningkatkan “entropy” atau ketidakteraturan password kalian secara signifikan, sehingga mesin penebak password bakal kesulitan setengah mati.
  3. Hindari Informasi Pribadi
    Ini kesalahan paling umum. Jangan pernah pakai nama hewan peliharaan, tanggal jadian, atau nama jalan rumah. Informasi kayak gini gampang banget didapat lewat media sosial kalian. Sepertinya sepele, tapi hacker sering memulai tebakan dari data pribadi ini.
  4. Manfaatkan Password Manager
    Kalau kalian tipe yang gampang lupa, solusi paling logis adalah pakai Password Manager. Alat seperti LastPass atau 1Password ini nggak cuma nyimpen, tapi juga bisa bikinin password super rumit secara otomatis. Jadi kalian nggak perlu pusing mengingat kode acak yang panjang itu.
  5. Rotasi Password Berkala
    Meskipun agak merepotkan, mengganti password setidaknya setiap 3 bulan sekali itu praktik yang sehat. Kira-kiranya ini untuk memutus akses kalau-kalau password lama kalian pernah bocor di suatu tempat tanpa kalian sadari.

Tapi, password kuat aja rasanya belum cukup kalau nggak didampingi sama MFA. Apa itu MFA? Ini adalah lapisan keamanan ekstra. Kalau password itu kunci pintu, MFA itu kayak gembok tambahan atau satpam yang minta KTP sebelum kalian boleh masuk. Tanpa MFA, kalau password kalian jebol, ya sudah, tamat riwayat akun itu. Dengan MFA, penjahat siber butuh lebih dari sekadar password. Berikut adalah opsi MFA yang bisa kalian terapkan:

  1. Verifikasi via SMS
    Ini cara paling jadul dan umum. Sistem mengirim kode OTP ke nomor HP kalian. Meskipun lebih baik daripada nggak ada sama sekali, metode ini sebegitunya kurang disarankan untuk akun sangat penting karena SMS bisa dicegat (SIM swapping).
  2. Aplikasi Authenticator
    Ini langkah yang lebih aman. Kalian bisa pakai aplikasi kayak Google Authenticator atau Authy. Aplikasi ini bakal memproduksi kode unik yang berubah setiap 30 detik. Karena kodenya generated di perangkat kalian dan nggak dikirim lewat jaringan seluler, ini jauh lebih sulit diretas.
  3. Hardware Token (Kunci Fisik)
    Ini level keamanannya paling tinggi, kayaknya cocok buat kalian yang pegang data super sensitif. Bentuknya kayak flashdisk (misalnya YubiKey) yang harus dicolok fisik ke komputer atau ditempel ke HP buat login. Memang sih butuh modal buat beli alatnya, tapi keamanannya nggak main-main.

Penerapan standar ini sepertinya nggak cuma wajib buat perusahaan raksasa. Organisasi kecil atau bahkan penggunaan pribadi pun perlu mulai sadar. Tim IT di kantor kalian mungkin bisa mulai melakukan audit: coba cek apakah password karyawan sudah cukup panjang? Apakah MFA sudah nyala? Kita bisa belajar dari banyak kasus di mana perusahaan besar pun bisa tumbang karena hal sepele kayak password admin yang lemah. Segitunya penting peran autentikasi ini dalam menjaga keberlangsungan sistem.

Sebagai penutup, rasanya sudah saatnya kita berhenti menganggap remeh urusan password dan mulai “naik kelas” dalam menjaga keamanan digital kita. Dari pembahasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa kombinasi password yang panjang, rumit, dan dilapis dengan MFA adalah standar minimal di hari ini. Rekan-rekanita sekalian, mulailah dengan mengaudit akun-akun vital kalian sekarang juga. Jangan nunggu sampai ada notifikasi “login mencurigakan” baru panik. Mari kita jadikan internet tempat yang lebih aman dengan mulai dari diri sendiri. Terima kasih sudah menyimak, semoga wawasan ini bisa langsung dipraktikkan ya, rekan-rekanita!

Recent Posts

  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • What is Reflex Framework? A Full-stack Python Framework
  • CloudFlare Acquired AstroJS!
  • How to Completely Remove AI Features from Windows 11 Explained
  • How to AI Fine-Tuning with a New Red Hat’s New Modular Tools
  • When to Use ChatGPT, Gemini, and Claude for Beginners
  • The Complete Roadmap to Becoming a Data Engineer: From Beginner to Pro Explained
  • Is OpenAI’s New Open Responses API: A Game Changer for Open Models?
  • The Top 5 Tech Certifications You Need for 2026 Explained
  • X.509 Certificates Explained for Beginners
  • How to Create a Local User on Windows 11: Bypass the Online Account Requirement Easily
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
  • Apa itu Skandal BlackCat Ransomware?
  • Grain DataLoader Python Library Explained for Beginners
  • Controlling Ansible with AI: The New MCP Server Explained for Beginners
  • Is Your Headset Safe? The Scary Truth Bluetooth Vulnerability WhisperPair
  • Dockhand Explained, Manage Docker Containers for Beginners
  • Claude Co-Work Explained: How AI Can Control Your Computer to Finish Tasks
  • Apa itu ToneShell? Backdoor atau Malware Biasa?
  • Apa itu Parrot OS 7? Ini Review dan Update Terbesarnya
  • NVIDIA Rubin Explained: The 6-Chip Supercomputer That Changes Everything
  • What is OpenEverest? The Future of Database Management on Kubernetes
  • Ketemu Link Video Viral ‘Petualangan Ustadzah Rahma’? Hati-hati, Kamu Bisa Dihack
  • Ikon Mic Roblox Hilang? Gini Caranya Mengaktifkan Kembali Voice Chat Biar Bisa Mabar Lagi!
  • Ini Cara Hapus Rombel Ganda di EMIS 4.0 yang Nggak Muncul Tombol Hapus
  • Inilah Kenapa Data Info GTK Kalian Nggak Berubah Padahal Dapodik Udah Sinkron
  • Belum Tahu CoreTax? Ini Trik Supaya Affiliator Lancar Lapor SPT Tahunan 2025 Tanpa Ribet
  • Tutorial Python Deepseek Math v2
  • Cara Menggunakan SAM3D untuk Segmentasi dan Pembuatan Model 3D dari Teks
  • Cara Membuat AI Agent Super Cerdas dengan DeepAgents dan LangGraph
  • Perbedaan GPU vs TPU, Mana yang Terbaik
  • Tutorial Langfuse: Pantau & Optimasi Aplikasi LLM
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
©2026 Tutorial emka | Design: Newspaperly WordPress Theme