Skip to content
Tutorial emka
Menu
  • Home
  • Debian Linux
  • Ubuntu Linux
  • Red Hat Linux
Menu
Ashen Lepus Hacker

Apa Itu Ashen Lepus? Kelompok Peretas yang Mengincar Instansi Pemerintah Timur Tengah

Posted on December 14, 2025

Ashen Lepus adalah sebutan bagi kelompok peretas atau Advanced Persistent Threat (APT) yang diduga kuat berafiliasi dengan Hamas. Fokus utama mereka adalah melakukan spionase siber dengan menyusup ke entitas pemerintah dan diplomatik, khususnya di wilayah seperti Oman, Maroko, dan Otoritas Palestina, menggunakan dokumen yang disisipi malware canggih.

Kami di komunitas keamanan siber sering kali melihat pola serangan yang berubah-ubah, namun laporan terbaru dari Unit 42 milik Palo Alto Networks memberikan gambaran yang cukup spesifik mengenai kelompok ini. Berdasarkan pengamatan mereka, Ashen Lepus ini bukan pemain baru. Mereka telah diprofilkan selama bertahun-tahun, dan aktivitas mereka menunjukkan penyelarasan yang konsisten dengan kepentingan strategis Hamas. Jadi, ini bukan sekadar peretasan acak, melainkan operasi yang terencana dengan target politis yang jelas.

Salah satu senjata andalan mereka belakangan ini adalah varian malware baru yang diberi nama AshTag. Malware ini memungkinkan mereka mencuri informasi dari entitas-entitas penting di Timur Tengah. Yang bikin khawatir, Ashen Lepus ini sepertinya terus meningkatkan kecanggihan mereka sejak tahun 2020. Mereka mengembangkan taktik peretasan yang lebih maju, termasuk melakukan obfuscation atau pengaburan infrastruktur serta penggunaan alat-alat baru lainnya untuk menghindari deteksi. Rasanya, mereka ini nggak main-main dalam menyembunyikan jejak digitalnya.

Modus operandinya cukup “klasik” tapi efektif. Malware AshTag biasanya disisipkan ke dalam dokumen yang terlihat sah atau legit. Temanya sering kali berkaitan dengan keterlibatan Turki dengan entitas Palestina. Menariknya, disaat aktivitas ancaman lain yang berafiliasi dengan Hamas menurun selama konflik Israel-Hamas, Ashen Lepus justru tetap aktif secara persisten. Bahkan, mereka terdeteksi masih beroperasi setelah gencatan senjata Oktober 2025. Kayaknya, dedikasi mereka untuk terus mengumpulkan intelijen sebegitunya kuat sampai konflik fisik pun nggak menghentikan operasi siber mereka.

Secara teknis, mekanisme serangan mereka bisa dijabarkan kuranglebihnya seperti ini:

  1. Pengumpan (Decoy): Serangan dimulai dengan file PDF yang terinfeksi. Dokumen ini berfungsi sebagai umpan dengan judul-judul yang memancing rasa ingin tahu target, seperti kemitraan antara Maroko dan Turki, inisiatif pertahanan Turki, atau aktivitas Hamas di Suriah.
  2. Eksekusi: PDF tersebut akan memandu target untuk mengunduh arsip RAR. Nah, di dalam arsip inilah terdapat payload berbahaya.
  3. Instalasi Malware: Setelah dieksekusi, malware AshTag memungkinkan peretas untuk mengekstrak file, mengunduh konten tambahan ke perangkat korban, dan mengambil tindakan lebih lanjut.
  4. Aksi Hands-on: Dalam beberapa kasus, Unit 42 menemukan bahwa setelah akses didapatkan, ada aktivitas “hands-on-keyboard”. Artinya, ada manusia di balik layar yang secara manual mencuri data, bahkan mengunduh dokumen langsung dari akun email korban dengan fokus pada dokumen terkait diplomasi.

Pergeseran fokus mereka ke dokumen yang membahas hubungan Turki dengan entitas politik Palestina sepertinya menandakan bahwa entitas Turki mungkin menjadi area minat operasional baru bagi mereka. Selain itu, kelompok ini juga telah melakukan beberapa perubahan untuk mengadopsi keamanan operasional yang lebih baik. Taktik mereka dibuat sedemikian rupa agar aktivitas jahat mereka bisa berbaur dengan aktivitas jaringan yang jinak atau benign. Begitunya cara mereka bekerja, membuat deteksi menjadi semakin menantang bagi kami para defender.

Perlu kalian ketahui juga, perusahaan keamanan siber lainnya pernah melacak aktivitas kelompok ini dengan nama “WIRTE” dan mengaitkannya dengan kelompok yang lebih besar seperti Gaza Cybergang dan Molerats. Sebelumnya, peretas yang berafiliasi dengan Hamas juga pernah dikaitkan dengan jenis malware bernama SysJoker yang menargetkan institusi pendidikan di Israel. Jadi, ekosistem ancaman ini cukup luas dan saling terhubung.

Berdasarkan pengamatan kami terhadap laporan tersebut, Ashen Lepus menunjukkan niat yang jelas untuk melanjutkan operasi spionase mereka tanpa henti. Berbeda dengan kelompok ancaman terafiliasi lainnya yang aktivitasnya menurun signifikan, komitmen mereka terhadap pengumpulan intelijen konstan selama dua tahun terakhir ini patut diwaspadai. Rekan-rekanita, penting bagi kita untuk memahami bahwa ancaman siber yang bermuatan politis seperti ini sering kali menggunakan teknik social engineering yang sangat rapi. Jika kalian bekerja di sektor pemerintahan atau yang memiliki akses ke data sensitif, jangan sembarangan membuka dokumen, terutama yang topiknya terlalu “menarik” untuk dilewatkan. Terima kasih sudah menyimak ulasan ini, semoga wawasan ini bisa meningkatkan kewaspadaan kita semua.

Recent Posts

  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • What is Reflex Framework? A Full-stack Python Framework
  • CloudFlare Acquired AstroJS!
  • How to Completely Remove AI Features from Windows 11 Explained
  • How to AI Fine-Tuning with a New Red Hat’s New Modular Tools
  • When to Use ChatGPT, Gemini, and Claude for Beginners
  • The Complete Roadmap to Becoming a Data Engineer: From Beginner to Pro Explained
  • Is OpenAI’s New Open Responses API: A Game Changer for Open Models?
  • The Top 5 Tech Certifications You Need for 2026 Explained
  • X.509 Certificates Explained for Beginners
  • How to Create a Local User on Windows 11: Bypass the Online Account Requirement Easily
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
  • Apa itu Skandal BlackCat Ransomware?
  • Grain DataLoader Python Library Explained for Beginners
  • Controlling Ansible with AI: The New MCP Server Explained for Beginners
  • Is Your Headset Safe? The Scary Truth Bluetooth Vulnerability WhisperPair
  • Dockhand Explained, Manage Docker Containers for Beginners
  • Claude Co-Work Explained: How AI Can Control Your Computer to Finish Tasks
  • Apa itu ToneShell? Backdoor atau Malware Biasa?
  • Apa itu Parrot OS 7? Ini Review dan Update Terbesarnya
  • NVIDIA Rubin Explained: The 6-Chip Supercomputer That Changes Everything
  • What is OpenEverest? The Future of Database Management on Kubernetes
  • Ketemu Link Video Viral ‘Petualangan Ustadzah Rahma’? Hati-hati, Kamu Bisa Dihack
  • Ikon Mic Roblox Hilang? Gini Caranya Mengaktifkan Kembali Voice Chat Biar Bisa Mabar Lagi!
  • Ini Cara Hapus Rombel Ganda di EMIS 4.0 yang Nggak Muncul Tombol Hapus
  • Inilah Kenapa Data Info GTK Kalian Nggak Berubah Padahal Dapodik Udah Sinkron
  • Belum Tahu CoreTax? Ini Trik Supaya Affiliator Lancar Lapor SPT Tahunan 2025 Tanpa Ribet
  • Tutorial Python Deepseek Math v2
  • Cara Menggunakan SAM3D untuk Segmentasi dan Pembuatan Model 3D dari Teks
  • Cara Membuat AI Agent Super Cerdas dengan DeepAgents dan LangGraph
  • Perbedaan GPU vs TPU, Mana yang Terbaik
  • Tutorial Langfuse: Pantau & Optimasi Aplikasi LLM
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
©2026 Tutorial emka | Design: Newspaperly WordPress Theme