Baru-baru ini, otoritas Prancis dibuat sibuk oleh sebuah insiden yang rasanya kayak plot film mata-mata, tapi ini kejadian beneran. Mereka menangkap dua anggota kru kapal feri penumpang Italia bernama Fantastic milik perusahaan Grandi Navi Veloci (GNV). Masalahnya bukan penyelundupan barang biasa, melainkan dugaan infeksi malware yang disengaja ke sistem kapal. Dari dua orang yang ditangkap, satu warga negara Bulgaria sudah dilepaskan tanpa dakwaan, tapi satu lagi yang berkebangsaan Latvia—yang kabarnya baru saja bergabung dengan kru—masih ditahan dan sudah dipindahkan ke Paris untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kalian mungkin bertanya-tanya, “Emangnya sebahaya apa sih malware di kapal?” Nah, begitunya penyelidikan berjalan, ditemukan bahwa perangkat lunak yang ditanam ini bukan virus biasa yang bikin komputer lemot. Berdasarkan laporan Le Parisien, alat yang ditemukan adalah remote access tool. Singkatnya, alat ini memungkinkan penggunanya untuk mengendalikan sistem kapal dari jarak jauh. Bayangkan saja kalau kendali kapal penumpang diambil alih oleh pihak yang nggak bertanggung jawab di tengah laut, ngeri banget kan? Kru asal Latvia tersebut sekarang menghadapi tuduhan berkonspirasi untuk menyusup ke sistem komputer atas nama kekuatan asing.
Investigasi ini nggak main-main karena melibatkan DGSI, badan kontraspionase Prancis. Mereka telah menyita sejumlah barang bukti yang kira-kiranya bakal mengungkap siapa dalang di balik operasi ini. GNV sendiri yang pertama kali sadar ada yang nggak beres. Saat kapal sedang bersandar di pelabuhan Sète, Mediterania, mereka mendeteksi adanya perangkat lunak mencurigakan dan langsung melapor. Untungnya, GNV mengklaim bahwa malware tersebut berhasil dinetralkan “tanpa konsekuensi” fatal, meskipun mereka belum membeberkan secara detail sistem mana saja yang sebenarnya diincar.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, juga sudah angkat bicara dan konfirmasinya cukup bikin ketar-ketir. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah masalah yang sangat serius karena ada individu yang mencoba meretas sistem pemrosesan data kapal. Yang bikin makin panas, Nuñez secara tersirat menyinggung adanya campur tangan asing. Meski nggak menyebut nama negara secara eksplisit, sepertinya semua orang paham ke mana arah telunjuknya, mengingat belakangan ini Rusia sering dikaitkan dengan berbagai operasi sabotase di Eropa. Rasanya memang ketegangan geopolitik sedang tinggi-tingginya sampai merembet ke laut.
Di waktu yang hampir bersamaan, Nuñez juga mengonfirmasi bahwa server email Kementerian Dalam Negeri Prancis sempat kebobolan serangan siber. Otoritas setempat bahkan sudah menangkap tersangka berusia 22 tahun terkait insiden ini. Kuranglebihnya, kejadian-kejadian ini menunjukkan pola serangan yang terorganisir. Tersangka peretas kementerian ini menghadapi ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara karena akses data ilegal. Kelihatannya, dua kejadian ini—feri dan kementerian—menjadi alarm keras bahwa perang siber itu nyata dan targetnya bisa apa saja, dari server pemerintah sampai sistem navigasi kapal laut.
Nah, rekan-rekanita, dari kasus ini kita bisa menyimpulkan bahwa keamanan siber itu aspek yang vital banget, bahkan di industri pelayaran sekalipun. Ancaman peretas yang disponsori negara asing bukan lagi isapan jempol, dan mereka bisa menyusup lewat orang dalam atau kru baru seperti yang terjadi pada kapal Fantastic. Jadi, kewaspadaan terhadap teknologi dan siapa yang mengoperasikannya harus ditingkatkan. Terima kasih sudah membaca ulasan ini, semoga wawasan rekan-rekanita tentang keamanan digital makin terbuka lebar.
