Zoom Stealer adalah sebuah kampanye serangan siber berbahaya yang memanfaatkan celah pada ekstensi browser untuk mencuri data-data sensitif dari platform pertemuan daring. Secara umum, Zoom Stealer merupakan malware yang menyamar sebagai alat bantu produktivitas guna memata-matai aktivitas rapat, mencuri identitas peserta, hingga mengambil kata sandi yang tersimpan dalam tautan undangan pertemuan kalian.
Kalau kita bicara teknisnya, Zoom Stealer ini sebenarnya bagian dari operasi besar yang dijalankan oleh kelompok bernama DarkSpectre. Bayangkan saja, ada sekitar 18 ekstensi di browser Chrome, Firefox, dan Microsoft Edge yang terdeteksi sudah disusupi. Kampanye ini nggak main-main karena sudah berdampak pada lebih dari 2,2 juta pengguna di seluruh dunia. Skemanya begini, mereka menyisipkan kode jahat ke dalam ekstensi yang kelihatannya berguna, kayak “Chrome Audio Capture” atau “Twitter X Video Downloader”. Padahal, di balik layar, ekstensi itu sedang sibuk memanen data kalian tanpa izin.
Cara kerjanya tergolong sangat rapi dan mungkin nggak kalian sadari sama sekali. Begitu kalian memasang ekstensi tersebut, mereka bakal minta izin akses ke sekitar 28 platform video conference populer, mulai dari Zoom, Microsoft Teams, Google Meet, sampai Cisco WebEx. Data yang mereka ambil itu detail banget, lho. Mulai dari URL rapat, ID pertemuan, bahkan kata sandi yang biasanya otomatis tertanam di link undangan. Nggak cuma itu, mereka juga mengambil nama pembicara, profil foto, jabatan, hingga logo perusahaan yang muncul saat kalian sedang melakukan registrasi webinar atau saat kalian baru mau masuk ke ruang rapat.

Data-data yang sudah dicuri tadi sepertinya nggak cuma disimpan begitu saja. Para pelaku menggunakan koneksi WebSocket untuk mengirimkan data tersebut secara real-time ke server mereka. Aktivitas pengiriman data ini biasanya terpicu otomatis pas kalian lagi buka halaman registrasi atau pas lagi navigasi di platform rapat tersebut. Rasanya sebegitu mudahnya mereka memantau gerak-gerik digital kita. Kabarnya, data ini bisa dijual ke kompetitor atau dipakai buat serangan social engineering yang lebih canggih, seperti penyamaran identitas untuk masuk ke rapat rahasia perusahaan.
Satu hal yang bikin ngeri adalah taktik “sleeper” yang mereka gunakan. Jadi, ada puluhan ekstensi yang awalnya terlihat normal dan berfungsi sebagaimana mestinya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Hal ini dilakukan supaya mereka bisa membangun basis pengguna yang besar dulu. Nah, setelah penggunanya sudah banyak, baru deh mereka merilis update yang isinya kode jahat. Begitunya cara mereka menghindari deteksi awal dari pihak keamanan browser seperti Google atau Firefox.
Untuk melindungi diri dari ancaman kayak begini, kalian bisa mengikuti beberapa langkah sederhana namun krusial berikut ini:
- Audit Ekstensi Browser Secara Berkala
Coba cek lagi daftar ekstensi yang terpasang di browser kalian. Kalau ada yang sudah lama nggak dipakai atau fungsinya nggak terlalu penting, lebih baik langsung dihapus saja daripada jadi risiko di kemudian hari. - Periksa Izin Akses (Permissions)
Setiap kali mau instal ekstensi, perhatikan apa saja yang mereka minta. Kalau aplikasi penyimpan video minta izin buat baca data di Zoom atau Teams, itu sudah tanda-tanda mencurigakan dan nggak masuk akal. - Gunakan Ekstensi dari Pengembang Terpercaya
Jangan asal instal cuma karena ratingnya tinggi. Kadang rating bisa dimanipulasi. Pastikan pengembangnya punya reputasi yang jelas dan ulasan yang memang terlihat organik dari pengguna asli. - Update Browser ke Versi Terbaru
Walaupun serangan ini lewat ekstensi, pihak browser biasanya rajin merilis patch keamanan untuk menutup celah komunikasi yang sering dipakai malware kayak Zoom Stealer ini buat kirim data ke luar.
Fenomena Zoom Stealer ini menyadarkan kita bahwa ancaman digital nggak selalu datang dari situs web yang tampilannya aneh atau mencurigakan. Sesuatu yang kita anggap membantu produktivitas harian pun bisa jadi bumerang kalau kita nggak waspada sama sekali. Keamanan data dalam rapat kerja atau obrolan pribadi itu krusial banget, apalagi di era kerja remote kayak sekarang. Tetaplah skeptis terhadap setiap aplikasi tambahan yang meminta akses berlebihan ke ruang privasi digital kalian.
Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk memahami bahaya ini, rekan-rekanita. Mari kita lebih bijak lagi dalam memilih tools digital agar privasi tetap terjaga dengan aman.
