Skip to content
Tutorial emka
Menu
  • Home
  • Debian Linux
  • Ubuntu Linux
  • Red Hat Linux
Menu

Apa itu CVE-2025-14847? Ini Penjelasan Lengkap MongoBleed

Posted on January 13, 2026

MongoBleed merupakan sebutan untuk kerentanan keamanan kritis dengan kode CVE-2025-14847 yang menyerang sistem database MongoDB. Kerentanan ini tergolong sangat berbahaya karena memungkinkan penyerang buat narik data sensitif dari memori server secara jarak jauh. Masalah utamanya ada pada cara server menangani kompresi data yang bikin informasi rahasia bisa bocor begitu saja.

Penjelasan teknisnya begini, MongoBleed itu muncul gara-gara ada masalah di cara MongoDB Server mengolah paket jaringan yang dikompres pakai library zlib. Jadi, si zlib ini kan gunanya untuk kompresi data biar nggak boros bandwidth. Nah, pas server lagi memproses pesan jaringan tersebut, ada kesalahan logika yang cukup fatal. Seharusnya server mengembalikan panjang data yang sudah didekompresi, tapi yang terjadi malah server mengembalikan jumlah memori yang sudah dialokasikan.

Bayangkan kayak gini, penyerang bisa ngirim pesan yang dimanipulasi dan ngaku kalau data itu bakal besar banget pas didekompresi. Server yang “polos” ini akhirnya nyiapin buffer memori yang gede banget. Pas datanya dikirim balik ke klien alias si penyerang, data yang ikut kegeret itu bukan cuma isi pesannya, tapi juga data-data lain yang lagi “nongkrong” di memori server. Hal yang paling nakutin adalah proses dekompresi ini terjadi sebelum tahap autentikasi. Jadi, penyerang nggak butuh username atau password sama sekali buat eksploitasi celah ini.

Data yang bocor pun nggak main-main. Mulai dari kredensial database, kunci API, kunci rahasia AWS, sampai data pribadi pengguna (PII) bisa kesedot dalam bentuk teks biasa. Bahkan kabarnya ada sekitar 80.000 lebih server MongoDB yang terekspos di internet publik dan rentan kena serangan ini. Kayaknya sebegitu parahnya efek dari MongoBleed ini sampai-sampai skor keparahannya dikasih angka 8.7. Peneliti keamanan bahkan bilang kalau cuma butuh alamat IP server MongoDB yang terbuka buat mulai “mancing” data rahasia dari memorinya.

Daftar versi yang kena dampak itu panjang banget. Hampir semua versi populer kena, mulai dari versi 8.2.0 sampai versi lawas yang dirilis tahun 2017 kayak versi 3.6 atau 4.0. Kalau kalian pakai MongoDB Atlas sih biasanya sudah aman karena sudah di-patch otomatis oleh penyedianya, tapi kalau instal sendiri alias self-hosted, ya kalian harus benar-benar waspada.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus kalian lakukan untuk mengamankan server dari ancaman MongoBleed:

  1. Identifikasi Versi MongoDB.
    Langkah pertama, kalian harus cek versi yang sedang berjalan. Jika kalian pakai versi 8.2.0-8.2.3, 8.0.0-8.0.16, 7.0.0-7.0.26, atau versi lama seperti 4.4 ke bawah, berarti server kalian dalam bahaya besar.
  2. Segera Lakukan Update Patch.
    Pihak MongoDB sudah ngerilis perbaikan sejak Desember. Kalian wajib upgrade ke versi aman seperti 8.2.3, 8.0.17, 7.0.28, 6.0.27, 5.0.32, atau 4.4.30 sesegera mungkin.
  3. Matikan Kompresi zlib.
    Kalau seandainya kalian belum bisa melakukan update karena alasan teknis, MongoDB menyarankan buat mematikan fitur kompresi zlib di konfigurasi server. Ini adalah satu-satunya cara buat mencegah eksploitasi tanpa melakukan upgrade.
  4. Gunakan Alternatif Kompresi yang Aman.
    Daripada pakai zlib yang lagi bermasalah, kalian bisa ganti ke algoritma kompresi lain kayak Zstandard (zstd) atau Snappy. Keduanya dianggap lebih aman dan nggak punya celah kebocoran memori kayak zlib dalam kasus ini.
  5. Audit Log dan Deteksi Serangan.
    Gunakan alat bantu seperti MongoBleed Detector untuk memindai log server. Cari pola aneh seperti alamat IP yang melakukan ribuan koneksi tapi nggak punya riwayat aktivitas metadata yang jelas.

Rasanya nggak bijak kalau cuma tahu tapi nggak segera bertindak, soalnya celah MongoBleed ini benar-benar nyata dan sudah banyak dieksploitasi di luar sana. Meskipun patch sudah tersedia, kalian juga harus waspada dan ngecek apakah sistem kalian sudah sempat disusupi sebelum di-update. Soalnya, mengganti password atau kunci API yang mungkin sudah bocor itu sama pentingnya dengan nutup celah keamanannya itu sendiri. Jangan nunggu sampai data bocor beneran baru pusing tujuh keliling, mending amankan sekarang juga selagi sempat.

Begitunya kira-kira penjelasan soal bahaya laten dari MongoBleed. Semoga informasi ini bisa jadi pengingat buat kita semua untuk lebih peduli sama keamanan database. Terimakasih banyak sudah menyempatkan waktu buat membaca ulasan ini sampai selesai, rekan-rekanita.

Recent Posts

  • Transmission 4.1.1 Released with Faster Performance and Better Efficiency for Linux and macOS
  • Calibre 9.3 Released with Enhances KEPUB Support for E-Book Readers
  • Microsoft Retires Outlook Contact Masking Feature March 31, 2026
  • Google Maps Privacy Update: Why Reviews and Ratings Are Now Hidden for Unlogged Users
  • Ubuntu 26.04 New Modular Firmware System: Faster Updates and Reduced System Bloat
  • Ghostty Linux Scrollbars Finally Here: What You Need to Know
  • Why Windows 11 Canary Channel Split into Two Builds? Explained!
  • What is Claude Cowork? And How Claude Cowork Uses Agentic AI
  • PocketBlue and Red Hat Bring Fedora Atomic Linux to Mobile Devices
  • Mozilla Ends Firefox Support for Windows 7, 8, and 8.1: What You Need to Know
  • Cosmic Desktop 1.0.7 Enhances Workspace Management: What’s New?
  • KDE Plasma 6.6 Released: What’s New and How to Upgrade?
  • Nginx Proxy Manager 2.14 Removes ARMv7 Support: What Users Need to Know
  •  KDE Plasma 6.6: A Complete Guide to the Latest Linux Desktop Features
  • Ubuntu 26.04 Resolute: Features, Release Date, and Everything You Need to Know
  • How to Fix Steam File Validation Error: Easy Steps for Beginners
  • 5 Essential PC Maintenance Tips to Keep Your Computer Fast and Healthy
  • What is Logseq? Forget Standard Notes App, Use this to Boosts Real Productivity
  • LibreOffice 25.8.5 Released with 62 Bug Fixes: What’s New?
  • Oracle’s New Plan for MySQL Community Engagement Explained
  • PipeWire 1.6 Brings LDAC Support and 128-Channel Audio: What’s New?
  • How to Fix Roblox Error: Create Support Files to Solve the Problem
  • Why Segmenting Your Home Network with VLANs Is the Upgrade You Didn’t Know You Needed
  • Proxmox 2026 Has The Best Backup and Recovery Feature
  • How to Calibrate Temperature and Humidity Sensors for Maximum Accuracy
  • Beda BRIVA dan Rekening? Ini Penjelasannya!
  • Pahami Perbedaan Kode SIEX, SIPX, dan SISX dengan Mudah!
  • Arti SPT Sebelumnya Tidak Ada dari BPS yang Perlu Kalian Pahami
  • Kode Error 205 di BCA Mobile: Penyebab dan Solusi Lengkap
  • Solusi Cepat Saat Voucher Axis Tidak Bisa Diproses
  • Prompt AI Menyusun Script Pola Suara Karakter agar Brand Jadi Ikonik
  • Prompt AI untuk Merancang Karakter Brand yang Ikonik
  • Prompt AI Audit Konten Sesuai Karakter Brand
  • Prompt AI Merubah Postingan LinkedIn Jadi Ladang Diskusi dengan ChatGPT
  • Prompt AI: Paksa Algoritma LinkedIn Promosikan Konten Kalian
  • Apa itu Spear-Phishing via npm? Ini Pengertian dan Cara Kerjanya yang Makin Licin
  • Apa Itu Predator Spyware? Ini Pengertian dan Kontroversi Penghapusan Sanksinya
  • Mengenal Apa itu TONESHELL: Backdoor Berbahaya dari Kelompok Mustang Panda
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
©2026 Tutorial emka | Design: Newspaperly WordPress Theme