Skip to content
Tutorial emka
Menu
  • Home
  • Debian Linux
  • Ubuntu Linux
  • Red Hat Linux
Menu
Coupang Data Breach

Apa itu Data Breach Coupang? Pengertian dan Kronologi Kebocoran Data Terbesar di Korea Selatan

Posted on December 14, 2025

Apa itu Data Breach Coupang? Secara definisi, Data Breach Coupang adalah insiden keamanan siber masif yang melibatkan eksposur informasi pribadi dari 33,7 juta pelanggan raksasa ritel Korea Selatan, Coupang. Kejadian ini bukan sekadar serangan peretas eksternal biasa, melainkan sebuah kasus klasik dari insider threat atau ancaman orang dalam, di mana hak akses sistem gagal dicabut tepat waktu. Singkatnya, ini adalah mimpi buruk manajemen identitas yang menjadi nyata.

Kalau kalian mengikuti perkembangan dunia e-commerce, kalian pasti tahu kalau Coupang itu pemain besar. Mereka ini sering disebut sebagai “Amazon-nya Korea Selatan”, mempekerjakan sekitar 95.000 orang dengan pendapatan tahunan tembus $30 miliar. Tapi, rasanya uang sebanyak itu nggak menjamin keamanan data yang sempurna. Pada 1 Desember 2025, mereka mengumumkan berita yang bikin gempar: data pribadi seperti nama, alamat email, alamat rumah, hingga riwayat pemesanan pelanggan mereka terekspos bebas.

Yang bikin kami di komunitas IT geleng-geleng kepala adalah kronologinya. Bayangkan saja, pelanggaran data ini sebenarnya sudah terjadi sejak 24 Juni 2025. Namun, Coupang baru menyadari adanya kebocoran ini pada 18 November—itu jeda waktu yang sangat lama, kuranglebihnya hampir lima bulan data tersebut berisiko disalahgunakan tanpa ada yang tahu. Setelah sadar, mereka langsung melakukan investigasi internal, namun nasi sudah menjadi bubur.

Meskipun pada pembaruan tanggal 6 Desember pihak Coupang meyakinkan pelanggan bahwa data yang dicuri belum bocor secara online, polisi tidak mau percaya begitu saja. Pihak berwenang, dalam hal ini Badan Kepolisian Metropolitan Seoul, langsung melakukan penggerebekan ke kantor pusat Coupang untuk menyita barang bukti. Langkah ini diambil sepertinya karena polisi ingin memastikan apakah ada unsur kelalaian dari perusahaan. Bahkan, buntut dari masalah ini cukup fatal bagi jajaran eksekutif; CEO Coupang, Park Dae-Jun, mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Rabu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kegagalan sistem keamanan mereka.

Nah, di sinilah bagian yang paling menarik sekaligus menakutkan bagi kami. Setelah polisi mengobrak-abrik kantor Coupang selama dua hari, mengumpulkan log sistem, alamat IP, dan riwayat akses, ditemukanlah biang keroknya. Ternyata, tersangka utamanya bukanlah sindikat peretas canggih dari negara antah berantah, melainkan seorang mantan karyawan. Berdasarkan laporan, tersangka adalah warga negara Tiongkok berusia 43 tahun yang pernah bekerja di sana.

Orang ini bergabung dengan Coupang pada November 2022 dan ditempatkan di bagian sistem manajemen otentikasi—posisi yang sangat sensitif karena mengatur siapa yang boleh masuk ke dalam sistem. Dia meninggalkan perusahaan pada tahun 2024, tapi entah bagaimana ceritanya, aksesnya ke sistem internal masih aktif. Kayaknya ada prosedur offboarding yang terlewat atau diabaikan di sini. Dia diduga menyalahgunakan akses “sisa” tersebut untuk menyedot data pelanggan. Saat ini, polisi meyakini bahwa pelaku sudah kabur meninggalkan Korea Selatan.

Insiden ini mengajarkan kita bahwa ancaman terbesar kadang bukan dari luar tembok api (firewall), tapi dari celah administrasi di dalam. Begitunya akses karyawan yang sudah resign tidak dimatikan, itu sama saja meninggalkan kunci pintu depan di bawah keset. Polisi juga menegaskan, meskipun Coupang adalah korban pencurian, jika ditemukan bukti kelalaian dalam melindungi data pelanggan, perusahaan dan karyawan terkait bisa dianggap bertanggung jawab secara hukum.

Efek dominonya pun sudah mulai terasa. Sejak pengumuman itu, aktivitas phishing di Korea Selatan melonjak drastis, menyasar hampir dua pertiga populasi negara tersebut. Ratusan laporan penipuan yang mengatasnamakan Coupang sudah masuk ke kepolisian. Para penjahat siber ini memanfaatkan kepanikan publik untuk memancing korban memberikan data lebih lanjut.

Berdasarkan pengamatan kami terhadap kasus ini, jelas bahwa teknologi canggih tidak ada gunanya jika protokol manusianya lemah. Kasus Coupang menjadi pengingat keras bahwa manajemen akses pengguna atau Identity and Access Management (IAM) adalah pilar fundamental yang sering diremehkan. Bagi rekan-rekanita sekalian, ini adalah sinyal untuk lebih waspada terhadap email atau pesan mencurigakan yang mengklaim dari e-commerce, terutama setelah berita kebocoran besar seperti ini. Dan bagi pelaku industri, pastikan prosedur exit karyawan kalian dijalankan dengan ketat; jangan sampai “mantan” masih bisa masuk ke rumah kalian seenaknya. Terima kasih sudah membaca ulasan kasus ini, semoga data kita semua tetap aman.

Sumber: bleepingcomputer

Recent Posts

  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • What is Reflex Framework? A Full-stack Python Framework
  • CloudFlare Acquired AstroJS!
  • How to Completely Remove AI Features from Windows 11 Explained
  • How to AI Fine-Tuning with a New Red Hat’s New Modular Tools
  • When to Use ChatGPT, Gemini, and Claude for Beginners
  • The Complete Roadmap to Becoming a Data Engineer: From Beginner to Pro Explained
  • Is OpenAI’s New Open Responses API: A Game Changer for Open Models?
  • The Top 5 Tech Certifications You Need for 2026 Explained
  • X.509 Certificates Explained for Beginners
  • How to Create a Local User on Windows 11: Bypass the Online Account Requirement Easily
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
  • Apa itu Skandal BlackCat Ransomware?
  • Grain DataLoader Python Library Explained for Beginners
  • Controlling Ansible with AI: The New MCP Server Explained for Beginners
  • Is Your Headset Safe? The Scary Truth Bluetooth Vulnerability WhisperPair
  • Dockhand Explained, Manage Docker Containers for Beginners
  • Claude Co-Work Explained: How AI Can Control Your Computer to Finish Tasks
  • Apa itu ToneShell? Backdoor atau Malware Biasa?
  • Apa itu Parrot OS 7? Ini Review dan Update Terbesarnya
  • NVIDIA Rubin Explained: The 6-Chip Supercomputer That Changes Everything
  • What is OpenEverest? The Future of Database Management on Kubernetes
  • Ketemu Link Video Viral ‘Petualangan Ustadzah Rahma’? Hati-hati, Kamu Bisa Dihack
  • Ikon Mic Roblox Hilang? Gini Caranya Mengaktifkan Kembali Voice Chat Biar Bisa Mabar Lagi!
  • Ini Cara Hapus Rombel Ganda di EMIS 4.0 yang Nggak Muncul Tombol Hapus
  • Inilah Kenapa Data Info GTK Kalian Nggak Berubah Padahal Dapodik Udah Sinkron
  • Belum Tahu CoreTax? Ini Trik Supaya Affiliator Lancar Lapor SPT Tahunan 2025 Tanpa Ribet
  • Tutorial Python Deepseek Math v2
  • Cara Menggunakan SAM3D untuk Segmentasi dan Pembuatan Model 3D dari Teks
  • Cara Membuat AI Agent Super Cerdas dengan DeepAgents dan LangGraph
  • Perbedaan GPU vs TPU, Mana yang Terbaik
  • Tutorial Langfuse: Pantau & Optimasi Aplikasi LLM
  • Siapa itu Kelompok Hacker Silver Fox?
  • Apa itu CVE-2025-52691 SmarterMail? Celah Keamanan Paling Berbahaya Tahun 2025
  • Apa Itu ErrTraffic? Mengenal Platform ClickFix yang Bikin Website Jadi ‘Error’ Palsu
  • Ini Kronologi Hacking ESA (European Space Agency) 2025
  • Apa itu Zoom Stealer? Ini Definisi dan Bahaya Tersembunyi di Balik Ekstensi Browser Kalian
©2026 Tutorial emka | Design: Newspaperly WordPress Theme